Jumat, 27 Maret 2020

Penoreh Janji

Menjelang tengah malam
Rerintikan hujan ju'mat menuju sabtu
Sayup samar memecahkan keheningan malam
Sentak teringat derasnya janji kala itu..
Di bumi mana seorang dia penyair janji sekarang?
Adakah jiwa mengisi raganya?
Atau hatinya mulai terisi dengan kertas kosong baru?
Hingga dia bebas menuliskan ribuan janji?
Ini hanya nyayian hati, menerka-nerka dia dan janjinya pada waktu sekarang.
Barangkali dia berhenti menoreh janji pada setiap kertas yang dia temui.
Mungkin dia telah menetap di satu hati
Atau mungkin dia berandai ingin kembali dan menepati salah satu janjinya?
Kembali pikiranku, mengingatkan sekarang pukul 23.30.
Deras kipas dan rintik hujan gaduh, dengan kutuliskan ini berharap mereka menyamarkan pikiran tak penting itu.
Selamat malam menjelang pagi 😊

Sabtu, 17 Agustus 2019

Lisan

Kau, tidakkah cukup kita begini?
Sekata demi kata kuselipkan pada pesan singkat.
Harapku kau percaya bahwa cinta ini ada.
Bukan karena lisan itu, bukan lisan yang menerangkan kasih sayang..
Tidakkah lisan pandai berbohong?
Sebab itu aku tak pandai bermain kata secara lisan.
Berharap sikap ini cukup kau percaya.
Jikalau begini saja kau ragukan aku, bagaimana dengan seribu rahasia ini ku bagi?
Sedang kau tak bisa percaya sikap kecintaan ini.
Bagaimana, apakah lisan itu akan menjelaskan seribu rahasiaku?
Sedang lisan pandai berbohong, lalu apa yang akan membuat kau percaya?
Lantas, kau akan pergi seketika mendengar lisan menerangkan seribu rahasiaku.
Kasih, cintaku tak semudah lisan mengucapkan kan janji manis lalu hilang dihisap bumi.
Cobalah untuk mengerti..

Ruang

Tertawa, mulut terbuka lebar mata sedikit mengatup..
Siapa akan mengerti dalamnya kesedihan tersembunyi?
Kita hanya sedang berada di tempat yang disebut ruang.
Ruang bahagia, ruang kesedihan, ruang ini dan ruang itu.. 
Sekilas orang melihat tidak ada beban pada pundak..
Kita berhasil menipu orang, namun tidak pada diri sendiri.

Untuk mengerti lebih dalam, hanya diri sendiri yang tahu.
Saat angin berembus sendu kala melamun nyaman dalam besi berjalan..
Atau saat ruang kesendirian, sekejap pikiran ini melayang terngiang cuplikan-cuplikan singkat meskipun belum terikat.
Ya, hanya aku yang mengerti kehampaan setelah percaya dan dikhianati.
Kemana orang yang dulu dengan lantang?, "Akulah lelaki yang mencinta".
Memberikan sekepal janji kemudian menelannya kembali.
Dulu, pernah bertanya perihal hatiku..
Aku yang penuh keraguan mencoba terus menimbang hati.
Hingga akhirnya, entah kapan benih cinta tumbuh bagai tersiram hujan akhir tahun.
Kutepiskan lagi sekelumit memori kebersamaan itu.
Ku kubur dalam-dalam kesedihan pada suatu ruang kisah lalu.
Apalah dayaku, hanya seseorang bodoh setelah menjatuhkan hati.

Mentari

Belum sempat ku melukis sinarnya mentari..
Cahayanya bias tiba-tiba ditepian pagi..
Setibanya siang, hanya langit mendung yang datang..
Mentari berpamitan terlalu pagi..
Kemana mentari pagi yang sering dinanti?
Akankah setelah hari ini mentari secerah kemarin?
Inginku selesaikan melukis sinarnya..
Manakala Ia enggan menyapa seperti hari ini..

Rabu, 01 November 2017

Membiarkan Mu

Hanya dengan membiarkan mu sendiri, ketika aku sudah kehabisan cara untuk membuat mu mengerti hati ini.
Hanya dengan cara membiarkan mu, aku berharap apa yang telah aku korbankan tidak menjadi sia-sia.
Dengan membiarkan mu begini, aku harap cinta yang semakin memudar bisa kuat kembali.
Namun dengan membiarkan mu sendiri, aku takut kau kehilangan arah untuk kesekian kalinya.
Dengan cara membiarkan mu, ketakutan ku kehilangan dirimu semakin tak berarah.
Meski berat, membiarkan mu sendiri hanya caraku menunjukkan cintaku yang tlah lama tak kau hiraukan.

#batasasa

Senin, 14 Desember 2015

Dilema Menyapa

Aku yakin, mampu lalui malam yang tiada berbintang
Meski angin menghembuskan lirih rindu
Dan bisik isian kalbu mengiris pilu
Namun harus kutepis semua
Untuk sekali ini, semua harus jelas
Aku hanya berupaya untuk kuat
Semoga tak kau rasakan
Betapa dilema ini mengiris-iris asaku

Raga Kefanaan

Andai waktu akhir bernafas dapat ditebak.
Andai jiwa selamanya di dalam raga ini.
Apakah kelak masa depan lebih baik??
Fakta menjawab.
Jika semua takkan mungkin.
Pikirkan.
Untuk esok, akankah aku tetap di dalam raga ini?
Jika masih waktu itu untukku.
Rabbku, izinkan aku lebih lama bernafas di dunia fana-Mu ini.
Izinkan aku merubah keburukan jiwa di dalam ragaku ini.
Agar kelak di dunia kekal-Mu, ku takkan mempersulit jiwa dalam ragaku.