Sabtu, 17 Agustus 2019

Lisan

Kau, tidakkah cukup kita begini?
Sekata demi kata kuselipkan pada pesan singkat.
Harapku kau percaya bahwa cinta ini ada.
Bukan karena lisan itu, bukan lisan yang menerangkan kasih sayang..
Tidakkah lisan pandai berbohong?
Sebab itu aku tak pandai bermain kata secara lisan.
Berharap sikap ini cukup kau percaya.
Jikalau begini saja kau ragukan aku, bagaimana dengan seribu rahasia ini ku bagi?
Sedang kau tak bisa percaya sikap kecintaan ini.
Bagaimana, apakah lisan itu akan menjelaskan seribu rahasiaku?
Sedang lisan pandai berbohong, lalu apa yang akan membuat kau percaya?
Lantas, kau akan pergi seketika mendengar lisan menerangkan seribu rahasiaku.
Kasih, cintaku tak semudah lisan mengucapkan kan janji manis lalu hilang dihisap bumi.
Cobalah untuk mengerti..

Ruang

Tertawa, mulut terbuka lebar mata sedikit mengatup..
Siapa akan mengerti dalamnya kesedihan tersembunyi?
Kita hanya sedang berada di tempat yang disebut ruang.
Ruang bahagia, ruang kesedihan, ruang ini dan ruang itu.. 
Sekilas orang melihat tidak ada beban pada pundak..
Kita berhasil menipu orang, namun tidak pada diri sendiri.

Untuk mengerti lebih dalam, hanya diri sendiri yang tahu.
Saat angin berembus sendu kala melamun nyaman dalam besi berjalan..
Atau saat ruang kesendirian, sekejap pikiran ini melayang terngiang cuplikan-cuplikan singkat meskipun belum terikat.
Ya, hanya aku yang mengerti kehampaan setelah percaya dan dikhianati.
Kemana orang yang dulu dengan lantang?, "Akulah lelaki yang mencinta".
Memberikan sekepal janji kemudian menelannya kembali.
Dulu, pernah bertanya perihal hatiku..
Aku yang penuh keraguan mencoba terus menimbang hati.
Hingga akhirnya, entah kapan benih cinta tumbuh bagai tersiram hujan akhir tahun.
Kutepiskan lagi sekelumit memori kebersamaan itu.
Ku kubur dalam-dalam kesedihan pada suatu ruang kisah lalu.
Apalah dayaku, hanya seseorang bodoh setelah menjatuhkan hati.

Mentari

Belum sempat ku melukis sinarnya mentari..
Cahayanya bias tiba-tiba ditepian pagi..
Setibanya siang, hanya langit mendung yang datang..
Mentari berpamitan terlalu pagi..
Kemana mentari pagi yang sering dinanti?
Akankah setelah hari ini mentari secerah kemarin?
Inginku selesaikan melukis sinarnya..
Manakala Ia enggan menyapa seperti hari ini..