Tertawa, mulut terbuka lebar mata sedikit mengatup..
Siapa akan mengerti dalamnya kesedihan tersembunyi?
Kita hanya sedang berada di tempat yang disebut ruang.
Ruang bahagia, ruang kesedihan, ruang ini dan ruang itu..
Sekilas orang melihat tidak ada beban pada pundak..
Kita berhasil menipu orang, namun tidak pada diri sendiri.
Untuk mengerti lebih dalam, hanya diri sendiri yang tahu.
Saat angin berembus sendu kala melamun nyaman dalam besi berjalan..
Atau saat ruang kesendirian, sekejap pikiran ini melayang terngiang cuplikan-cuplikan singkat meskipun belum terikat.
Ya, hanya aku yang mengerti kehampaan setelah percaya dan dikhianati.
Kemana orang yang dulu dengan lantang?, "Akulah lelaki yang mencinta".
Memberikan sekepal janji kemudian menelannya kembali.
Dulu, pernah bertanya perihal hatiku..
Aku yang penuh keraguan mencoba terus menimbang hati.
Hingga akhirnya, entah kapan benih cinta tumbuh bagai tersiram hujan akhir tahun.
Kutepiskan lagi sekelumit memori kebersamaan itu.
Ku kubur dalam-dalam kesedihan pada suatu ruang kisah lalu.
Apalah dayaku, hanya seseorang bodoh setelah menjatuhkan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar