Senin, 14 Desember 2015

Dilema Menyapa

Aku yakin, mampu lalui malam yang tiada berbintang
Meski angin menghembuskan lirih rindu
Dan bisik isian kalbu mengiris pilu
Namun harus kutepis semua
Untuk sekali ini, semua harus jelas
Aku hanya berupaya untuk kuat
Semoga tak kau rasakan
Betapa dilema ini mengiris-iris asaku

Raga Kefanaan

Andai waktu akhir bernafas dapat ditebak.
Andai jiwa selamanya di dalam raga ini.
Apakah kelak masa depan lebih baik??
Fakta menjawab.
Jika semua takkan mungkin.
Pikirkan.
Untuk esok, akankah aku tetap di dalam raga ini?
Jika masih waktu itu untukku.
Rabbku, izinkan aku lebih lama bernafas di dunia fana-Mu ini.
Izinkan aku merubah keburukan jiwa di dalam ragaku ini.
Agar kelak di dunia kekal-Mu, ku takkan mempersulit jiwa dalam ragaku.

Selasa, 24 November 2015

Dirimu Asaku

Kala fajar belum turun.
Kala dingin menusuk dada dan sela-sela rusuk tuamu.
Kala mata ini pun masih enggan terbuka.
Dirimu Asaku, tak pernah menghiraukan semua itu.
Apa yang bisa aku lakukan untuk dirimu asaku?
Aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa.
Lantaran tidak sepenuhnya aku seperti yang lainnya.
Aku hanya seorang aku yang membutuhkan dirimu asaku.
Tanpa letih engkau berikan yang terbaik untuk kami.
Doaku untukmu asaku, kita selalu diberi-Nya kesehatan dan kesempatan.
Semoga langkah ini diberkahi oleh-Nya.


Teruntuk dirimu asaku

Sabtu, 10 Januari 2015

Titian Asa

Temaram telah usai
Hantarkan malam kian larut
Kala aku dan keheningan
Untai kata doa dalam damai
Kusongsong esok mentari kan menyapa
Kurajut asa bersama langkah

Eno